Tampilkan postingan dengan label Hanya mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanya mimpi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Bapa menjemputku


Mimpi bertemu dengan almarhum bapa bukan hal yang aneh lagi bagiku. Sering dan berkali kali aku ditemani bapa dalam mimpi. Entah apapun makna dari mimpi itu, apa hanya karena aku merindukannya atau memang mimpi itu benar-benar ada maknanya, aku tak tahu.Seminggu kemaren dua kali aku bermimpi. Pertama, bapa makan delima yang aku bawa, yang kedua, aku dan dia jalan-jalan dengan kendaraan memasuki gang gang kecil melihat air yang jernih.
Malam ini pun aku bertemu dia lagi. Dirumahku sangat banyak orang, semua orang tidur berbaring bersama dalam satu ruangan, saat aku mau ikut tidur seseorang kakek berbaju putih mencariku, ketika kudekati ternyata almarhum bapa.
"pak" aku menyapanya kemudian salam(suntangan)
"aku datang untuk menjemputmu, tidak apa-apa kan kalau kamu pergi sekarang?" dia menatapku dan bertanya. Aku terkejut, apa itu artinya aku akan mati. Aku merasa siap meskipun sedikit takut.
"kalau memang harus sekarang, aku siap. Tapi aku tidak punya bekal apapun, bapa tahu kan gimana kelakuanku semasa hidup"
"tenang saja, kita akan menerimanya setiap hari jum'at" katanya. Kemudian aku ingat bahwa setiap malem jum'at arwah yang meninggal keluar untuk mencari siapa yang mendoa'kannya. Aku hanya punya ibu yang akan mendo'akanku, selebihnya tak ada lagi yang akan mendo'akanku saat aku telah mati.
Setelah itu aku melihat ibuku menangis sambil membaca surat An-Naba. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghafal surat ini, tapi sampai sekarang aku baru menghafal 5 ayat. Ibu mungkin mendengar pembicaraanku dengan Bapa.
Sudah tahu aku akan mati kemudian aku keluar mencari keluargaku. Aku bertemu dengan keponakanku Dinda. Dengan senyum aku berkata padanya,"kamu harus banyak senyum, jangan bersedih". Aku mencium cakra, zema dan najwa.
 Yang menandakan otakku ga beres adalah aku ingat Song joong ki, bahwa aku belum tamat menonton dramanya. Parahhhh, mau mati juga masa inget korea bukannya inget dosa, hadeeeuuh.
sebelum pergi bapa berkata padaku : " kamu jangan membicarakan ini pada siapapun yah, bahwa aku menjemputmu, jangan pula kamu menulisnya"
Mungkin aku tidak akan membicarakan tentang mimpi ini pada siapapun, aku berjanji. Tapi untuk tidak menulisnya aku tidak bisa, dipagi ini saat aku sampai di kantor, aku menulis tentang mimpiku itu. Apa mungkin mimpi itu nyata?. Apa mungkin aku akan mati sebentar lagi. Aku cuma punya satu permintaan, bahwa jika aku mati, aku ingin mati khusnul khotimah dan tidak merepotkan orang yang hidup.

Kamis, 29 November 2012

Meet You in My Dreams

Kamu datang lagi dalam mimpiku, kali ini berani menampakkan diri dan berbicara padaku. Bukan hanya isyarat dan sembunyi-sembunyi. Wajahmu pun terlihat jelas dibanding mimpi sebelumnya yang hanya buram, mungkin aku bisa mengenalimu jika kita bertemu. Kau juga bertanya siapa namaku kemudian tersenyum saat melihatku bernyanyi sumbang. Kau pun menyebutkan namamu, hanya saja saat aku bangun aku tidak bisa mengingatnya lagi. Kita bercerita banyak, tertawa banyak dalam suasana bahagia. Meskipun aku merasa bersalah pada keluarga yang telah masuk dalam duniamu yang bukan duniaku. Hanya dalam mimpikah kita bertemu?. Kuharap kau segera datang dan menemuiku, tapi kumohon  keluarlah dari duniamu yang menyeramkan bagiku. Aku tak ingin masuk ke duniamu tapi tak ingin juga kita berlainan dunia.

Selasa, 09 Oktober 2012

Romawi

Aku tidur dengan memakai daster gombrong punya ibuku. Setiap kali tidur sepertinya  Ruh telah keluar dari raga fuzi kemudian gentayangan ke sutu tempat. Baik itu tempat yang belum fuzi singgahi atau yang pernah dia lalui. Seperti malam ini, aku dengan memakai baju daster yang kupakai tidur, pergi ke sebuah pertemuan arsitektur. Disana banyak sekali orang, ada yang kukenal  dan ada juga yang tidak. Kerumunan orang itu dibagi menjadi dua untuk bersaing memainkan sebuah drama.Cerita yang aku bawakan yaitu tentang romawi. Aku tidak bisa memilih karena aku kalah voting. Aku sedih karena terpisah dengan Gery. Dia ada di grup sebelah dengan teman-teman yang lain. Ada yang menarik perhatianku dari grup sebelah, entah siapa namanya, bukan orang yang kukenal. Tapi aku tahu dia menyukaiku dan aku akan menyukainya. Aku bersama gery dan teman kampus yang lain. Sebelum bertanding panitia menyuruh untuk bersalaman dan saling mengenal dulu satu sama lain. grup sebelah berderet menerima salam dan grup aku berjalan beriringan menghampiri mereka. Seperti akan memulai sebuah pertandingan sepak bola. Saat tiba aku berhadapan dengan dia, (sebut saja dia Kang Kyung Jun, karena perawakannya mirip dia). Dia tidak menyebutkan namanya siapa dan tidak bersalaman, dia memindahkan uraian rambutku yang tadinya di bahu kiri menjadi ke bahu kanan. Dia mendorong orang yang didepan dan belakangku yang kebanyakan lelaki, sehingga akutidak berhimpitan dengan mereka. 

Aku terbangun, kemudian minum dan niat untuk puasa di hari besok. Aku tertidur lagi.

Aku makan di sebuah restoran lesehan dengan teman-temanku. Kang kyung jun duduk di meja lain berdua dengan asistennya. Aku memandangnya, berusaha melihat wajahnya dengan jelas agar saat bangun aku bisa ingat wajahnya. Asistennya melihatku memandang kyun joon, sambil tersenyum kepadaku dia berbisik dan menyikut bahwa aku tengah memperhatikannya. Tapi Kyung joon tak menghiraukan asistennya, dia hanya memandang lurus ke depan dan terus menikmati makanannya. Saat setelah aku memalingkan pandangan, barulah dia melihatku dengan sekilas. Aku yakin dalam hatiku bahwa aku akan menyukai dia dan dia akan menyukaiku, tapi siapa dia, apa pekerjaannya, bagaimana rupanya tak jelas.



Saat bangun aku penasaran dengan Bangsa Romawi. Jelas itu ada dalam Al-Qur'an yaitu Ar-Rum.

Senin, 19 Maret 2012

Bawang kucai dan Pangeran

Dalam senja yang temaram, sang pangeran meninggalkan kawannya sebentar lalu menghampiri seorang gadis yang sedang duduk termenung sendiri.
"Bawang kucai,Jangan lupa yah nanti malam datang ke acara pesta ulang tahunku"
Si gadis tertegun mendengar perkataan pangeran kemudian dia menjawab.
" Iya, tapi aku tidak bisa berjanji, karena aku punya urusan malam ini"
" Pokoknya kamu harus datang, aku akan menunggu" pangeran tampak sedikit kecewa mendengar jawaban bawang kucai, kemudian dia pergi.
Bawang Kucai membayangkan bagaimana suasana pesta nanti malam, pati ramai dan gemerlap. Akan berkumpul tamu dan sahabat pangeran dengan kado dan pakaian yang indah. Lalu apalah artinya seorang bawang kucai. Dunia dia dan dunia pangeran sungguh berbeda.Dia tak mungkin bisa hadir dan masuk dalam lingkungan yang menurutnya berbeda. Bawang kucai tidak siap untuk memasuki dunia gemerlap itu, terlebih lagi, saat dimana pangeran mengundangnya untuk datang, itu semua hanya mimpi belaka. Dia harus terbangun dari tidurnya.

Senin, 09 Januari 2012

Mimpi gila

Aku kemping gak bawa baju atau apa apa, datang terlambat saat hari sudah mau gelap.Aku meminjam baju Rinrin karena dia pulang, gak ikut nginep. Bajunya cuma kaos tipis, tapi lumayan daripada aku hanya memakai satu baju saja.
Waktu kumpul di api ungun, seorang pria mau meminjamkan jaketnya padaku, dia masuk ke tendanya, tapi kemudian pria lain melepas jaketnya dengan cepat lalu memakaikannya padaku.Tebal dan hangat. Aku gak kenal siapa mereka. Aku datang ke sini sendiri. Seusai kumpul Aku masuk tenda untuk tidur, dengan jaket yang tadi di pinjamkan jadi lumayan hangat untuk melawan udara pegunungan yang sangat dingin.Tapi kemudian Aku membagi jaketku pada seorang gadis remaja yang mengigil kedinginan padahal dia sudah pakai jaket dan kaos kaki.
" Deketan aja tidurnya sebelah sini nanti biar jaketnya bisa dipakai berdua." Aku menawari si gadis yang kedinginan.
" oh iya, makasih kak" Jawabnya kemudian merapat.
"Jaketnya punya kakak bukan, ini sama kayak punya kakakku" tanya dia saat jaket itu menutupi bahunya dan bahuku.
" Bukan punyaku, ini tadi ada yang minjemin. Mungkin itu kakakmu"
" Pasti bukan, soalnya kak Radit orangnya pelit" jawabnya sambil menguap kemudian memejamkan mata untuk tidur.

Pagi tiba, aku pergi ke tempat pemandian dan menikmati pemandangan sekitarnya sendirian.
" Cuaca dingin sekali, kamu kuat yah gak pake jaket." pria yang meminjamkan jaketnya semalam datang menghampiriku.Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman, karena kurasa dia harusnya tahu kenapa aku gak pake jaket.
" Jaketku mana?" tanya dia kemudian.
" oh itu... dipake temen setendaku, nanti biar aku ambil dari dia" pasti dia kesal karena aku malah minjemin ke orang. Tapi biarlah kan yang pake adiknya.
"Kamu tahu ga, apa aja caranya buat mengatasi dingin kayak gini selain pake jaket."
"Bikin api ungun"
" emh..bisa, selain itu apa lagi?" dia menatapku dengan mata menyelidik. Aku melihat dia senyum, lumayan manis.Aku menggelengkan kepala karena ga punya jawaban lain.
Dia mendekat padaku, dalam hitungan detik tangannya memeluk tubuhku kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Aku benar-benar membeku seperti es karena terkejut, tak ada tenaga untuk mendorong tubuhnya menjauh dariku atau hanya untuk sekedar memalingkan muka, terlalu cepat semuanya terjadi. Bibirnya kemudian melumat bibirku dengan lembut, aku masih terpaku. Hanya dalam hitungan detik saja kurasa semuanya berlangsung. Dia menjauhkan wajahnya dari wajahku kemudian tersenyum,tangannya menyentuh jemariku yang sedingin es balok.
" aduh..Ternyata bukan jadi hangat, malah jadi makin dingin" katanya dengan terkejut yang dibuat-buat kemudian tersenyum lagi.
Aku melangkah pergi menjauhinya tanpa berkata apapun, benar-benar gila dia. Orang gila asli. Tapi... kenapa aku nggak berontak, huh..apa aku yang sudah gila.

Jumat, 29 April 2011

mimpi buruk

Aku bersama teman- teman kuliahku ketika kudengar salah satu dari mereka ada yang menyukaiku. Kupikir aku mau aja daripada jomblo, toh orang yang disebut suka aku juga lumayan. Saat kumpul bersama, ada sesorang yang turun dari mobil dan ikut bergabung dengan kami. Mereka mengenalnya dan aku pun ternyata mengenalnya, dia itu kak Bayu. Dengan baju merah ati dan celana hitam dia menyapa teman-temanku. Kemudian aku pun menyapanya hanya dengan kata "kak damang, udah lulus kuliahnya yah?". Dalam hati aku tahu dia sudah jadi dokter, tapi obrolan itu tak keluar, kak Bayu pun hanya menjawab singkat dengan kata iya seolah enggan berpanjang-panjang berbincang. Pertemuan yang canggung dan kaku, merasa tidak nyaman. Padahal dibayangan, aku akan menangis saking bahagia saat ketemu dia, banyak yang diceritakan dan berbincang. Meski tahu dia menikah seperti dalam mimpi sebelumnya, tapi tetap bahagia dan damai.

Kesempatan berikutnya, tiba-tiba aku ketemu dia di angkot saat aku bersama ibu. Suasana malam hari, dia berbaju sama tapi kini bersama temannya.
"Eh ketemu lagi kak" sapaku.
"Eh, Rara." jawabnya singkat tanpa senyum, kemudian memalingkan muka.
"Siapa Ra, temennya yah?" tanya ibuku, seperti sifatnya yang bawel dia selalu ingin bertanya ini itu.Tapi kak Bayu berpaling dengan sombongnya, bahkan dia tak menjawab pertanyaan ibu dan bersikap tak peduli.
"dia bukannya yang ada difoto itu kan" Ibu sadar tenyata dia itu kayu.Dia marah atas sikap sombongnya kak Bayu. Dia mengomel ini itu, dan aku berusaha menahannya agar jangan sampai keceplosan bahwa aku menyukai dia, jangan sampai dia tahu.

Kemudian ibu dan kak Bayu saling berdebat dan bertengkar, ibuku sempat mengeluarkan sumpah serapah teradap kayu.Kayu pun tak tinggal diam, dia membalas dengan kata -kata yang tak kalah tajam. Aku tak bisa menahan tangis. Marah terhadap ibu yang membuatku malu dihadapan kayu, juga sedih melihat kak Bayu telah berubah. Karena tak bisa apa-apa akhirnya aku menangis.Kupalingkan wajahku melihat jalan yang bergerak di malam hari, kudengar lagu yang teramat sedih melatari tangisan suasana hatiku. Aku tak bisa menghentikan mereka. Aku hanya menagis sekerasnya menahan rasa sakit dan sesak didadaku.Aku terbangun dengan sisa senggukan yang terasa amat sakit. Saat kubuka mata, air mata telah membasahi pipiku.

Rabu, 23 Februari 2011

Ada bahagia di tawanya

Di sebuah acara, entah pernikahan atau reuni akbar, aku dan sahabatku sedang makan bersama.Tiba - tiba Fery menghampiriku dan bertanya " Kerjanya libur Ra?". Ku jawab "iya", itu saja. Kemudian dia pamit pergi bersama teman-temannya.
Aku dan acie siap pergi, tapi kemudian terhenti saat ku lihat sebuah bis penuh dengan orang parkir di depan kami.
" Ntar cie, kayaknya itu kelas ka Bayu deh," kuperhatikan satu- satu orang yang turun dari bis. Dan ternyata ada seseorang yang mirip, aku tidak yakin karena gaya rambutnya berbeda. Kuperhatikan orang itu, dan ternyata dia menghampiri Lani dan Ami, temen pramukaku.
" Bener cie itu kak Bayu." teriakku. Aku menghampirinya,tapi kemudian bingung apa yang harus kukatakan.
"Kak damang?" hanya itu yang bisa kukatakan padanya.
"Eh rara,pagi- pagi ga pernah online yah?" tiba-tiba dia menarik tanganku menjauh dari lani dan Ami. Acie sedari tadi jauh dariku membiarkanku menghampiri kak Bayu.
"iya, ga pernah, biasanya agak siangan"
"pantesan aku liat lewat facebook anakku, ternyata rara ga ada"
Tiba-tiba acie teriak dari jauh, " Haah?!anak??!. Berarti udah nikah dong". Aku melihat ke arah acie, kemudian ke arah kak Bayu.
"Oh iya, sini aku kenalin" kata kak Bayu tenang, senyumnya bahagia. Dia menuntunku menuju seorang wanita yang sedang menggendong bayi.
"ini istri kakak" dia memperkenalkan. Aku merasakan betapa kak Bayu bahagia. Dia pergi kembali berbincang dengan lani, aku sendiri berbincang dengan istrinya.Katanya sekarang mereka tinggal di bandung, dan kak Bayu punya klinik.Istrinya tidak cantik, lebih muda dariku dan berbadan kecil.Rambutnya sedikit keriting, tak berkerudung.Anaknya perempuan, tapi tidak cantik juga. Selagi aku berbincang dengan istrinya, acie menghampiri kak wahyu dan tampak membicarakan aku.
" kak Bayu tahu kan kalau rara itu suka sama kak Bayu,hampir sebelas tahun dan dia tak pernah melupakan kakak." Aci bercerita menggebu-gebu, tampak dia sedih, kesal dan marah, meski sebenarnya dia tak berhak apapun atas semuanya.
" Yah, tapi gimana lagi, memang kita ga ada jodoh" jawab kak Bayu pelan. Aku takut istrinya mendengar pembicaraan mereka,aku mengalihkan perhatian dengan bercanda dengan bayinya, hingga aku tak tahu lagi apa yang dikatakan mereka.
Aku tak merasakan apapun,ekspresi rasa sedih telah diwakili acie dengan sikapnya pada kak Bayu. Aku merasa bahagia saat melihat tawa dia. Tapi sungguh hatiku hampa. Berbeda dengan mimpi sebelumnya.
22 Februari 2011