ketika kalimat itu terucap dari mulut mereka
Ada sedikit perih dalam hati saat harus menjawab tawaran itu
Aku tahu mereka menyayangiku, peduli dan perhatian
Lalu Kenapa aku selalu menjawab dengan menangis
Hati dan jiwaku tiba-tiba hancur
benar-benar terasa luka hati ini
Egoku berteriak dengan suara yang tak terdengar
Aku tak mau ditawari atau ditunjukan
aku ingin mendapatkannya sendiri meski sulit
Sebuah Kesombongan tiada akhir
Haruskah kukatakan pada mereka bahwa aku yang disayangi mereka telah menjadi gila
Tentang gila, aku teringat akan Heidi,juga Difta
Apa mereka salah satu alasan kenapa aku sendiri sampai detik ini?
Terlalu lama aku bersama mereka hingga tanpa sadar menjadi tua
terlalu mesra dengan khayalan hingga tak mengenal sekelilingku
Setiap waktu aku menunggu hadirnya difta, atau cukup hanya Heidi saja
Namun sampai sejuah ini Difta tak pernah hadir dalam nyata
aku terus menciptakan heidi heidi yang lain untuk mengobati sepiku
tapi dunia membangunkanku bahwa hidup tak pernah bisa semudah yang diinginkan
Lalu aku teringat ibu
yang menyayangiku dan menghkawatirkanku
tak ingin aku membuatnya terlalu lama menunggu
pencarian tenangku dibuat menjadi cepat karena penantian ibu
demi waktu yang tak pernah kompromi dengan siapapun
aku membuat luka dalam hati ibu jika terus mencari sendiri
Lalu Allah yang Maha Pengasih
Dimanakah adam yang kucari itu
Meski Aku melihatnya dengan hati
kurasa Adamku sedang mendekat padaku dan menujuku
Adakah aku harus menyerah dan berjalan tanpa hati
menyambut adam yang dibawa mereka
Katakan padaku hingga tak ada yang terluka
baik aku, dia, dan mereka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar