Kamis, 26 April 2012

Sesuatu yang Kutahu



Di sinilah aku, berdiri di atas tanah ini selama bertahun-tahun, di sudut lapang sebuah sekolah terbaik di kota Kabupaten Cianjur. Di sudut lainnya tepat di depanku, ada kawanku yang berdiri lebih tinggi dan kokoh, dan seharusnya di samping lapang voli juga ada sejenis aku yang lain, tapi setahun lalu saat kepala sekolah diganti, dia di musnahkan, entah karena sudah tua atau alasan apa.
Aku berdiri di sini sejak lama, entah sejak sekolah ini berdiri atau sebelumnya. Selama itu, banyak kejadian yang telah kusaksikan. Setiap tahun berganti, siswa datang dan pergi membawa cerita masing-masing. Ada yang menangis di bawah dahanku, ada yang tertawa di bawah rindang daunku, ada yang bersembunyi di balik badanku dan ada pula yang berbunga seperti merahnya bungaku. Aku melihatnya dan hanya menjadi saksi bisu bagi para manusia itu. Tak ada yang pernah mengingat keberadaanku selama mereka 3 tahun menuntut ilmu di sini, kecuali ketika mereka perpisahan akan mengambil foto bersama di bawah daun dan bungaku. Baru-baru ini juga mereka lebih memilih berfoto di depan gerbang yang elegan dibanding di bawah dahan-dahanku. Manusia memberi kami nama Plamboyan.
Hari minggu pagi matahari mengantarkan sinarnya pada hijaunya daunku agar aku bisa makan dengan cara fotosintesis. Sekolah sepi dari hiruk pikuk manusia karena hari libur. Pagi ini ada 4 orang wanita yang datang ke sekolah. Sepertinya bukan siswa tahun ini karena wajahnya tidak muda lagi, bukan juga guru atau karyawan, mungkin mereka pernah bersekolah di sini di tahun sebelum-sebelumnya. Mereka berkeliling mengitari setiap sudut sekolah. Angin membawa suara mereka padaku.
“ Tuh kan bener yang aku bilang, Plamboyan ini gak pernah berbunga bersamaan, yang sana berbunga dan yang ini hanya hijau dengan daun”. Salah satu dari mereka berbicara dan menunjuk ke arahku, dia berkacamata dan memakai kerudung putih, mereka di bawah kawanku.
“ Dan kalau plamboyan yang di lapangan bawah itu masih ada, pasti dia sedang gugur”.W anita itu menambahkan dengan suaranya yang terdengar sedikit sendu. Aku takjub, ternyata ada juga yang memperhatikan kami para pohon plamboyan, sampai dia tahu bahwa kami berbunga tak pernah bersamaan. Bahkan dia ingat dengan kawanku yang sudah tiada. Aku penasaran siapa dia sebenarnya.
“ Ayo cepetan, katanya mau foto-foto dibawahnya, keburu siang nih.” Wanita yang lain menanggapi. Kemudian mereka berpose diatas akar kawanku yang menyembul di atas tanah. Wanita yang berkacamata itu melihat ke arahku, dia membidikan kameranya beberapa kali padaku dari berbagai sudut. Kubisikan kata padanya melalui angin, ‘Mendekatlah ke arahku sehingga aku bisa merasakanmu lebih dekat’. Dia seperti bisa mendengar dengan hati, kakinya mendekat ke arahku. Dia duduk di atas batu di bawah dahan dan daunku sementara kawannya masih jauh disana. Aku mengenalnya, aku ingat siapa dia. Dulu saat masih memakai putih abu, dia selalu bercerita tentang cinta dan apapun padaku. Ya, kalau tak ada ketiga temannya mungkin dia akan melakukan hal yang sama, berbisik dan mengajakku berbicara. Sudah sangat lama, mungkin sekitar 10 kali bungaku mekar dan gugur.
“ Aku jatuh cinta sama kakak kelasku, dia orang yang tampan dan pintar, meski kata teman-temanku dia jutek tapi aku suka padanya.” Suatu hari diwaktu dulu, dia berbisik padaku dan menyembunyikan tubuhnya yang tambun dibalik batangku yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Jika manusia yang lain melihat kelakuannya mungkin akan mencap dia gila, untung hanya aku yang tahu. Dia melihat ke arah kelas di depan pohon Plamboyan yang kini sudah tiada. Di bawah kawanku itu ada seorang siswa putra yang sedang berbicara dengan dua orang gadis.
“Kayaknya aku mesti ganti kacamata, aku gak bisa lihat dengan jelas siapa cewek- cewek yang ngobrol sama Kak Bayu disana. Apa mungkin salah satu dari mereka itu pacarnya?”. Dengan resah dia berbisik lagi. Aku merasakan aura kebimbangan dalam dirinya.
“Mereka datang!” pekiknya dengan suara tertahan. Gadis itu panik dan semakin menyembunyikan tubuhnya di balik badanku. Saat mereka dekat dan tepat di bawah daun dan dahanku gadis itu mengusap dada dengan lega. Itulah pertama kali dia berbicara padaku.
“ Ah ternyata kalian, kupikir kalian tuh pacarnya Kak Bayu”. Dia bercerita menyatakan kekhawatirannya pada kedua gadis tadi, yang ternyata sahabatnya.
“ Hahahaaha..Aduh tenanglah Si, Kak Bayu itu belum punya pacar, tadi dia bilang kalau dia sakit selama seminggu ini.” Kata salah satu sahabatnya seraya tertawa geli.
“Hah!..Pantes aja aku ga pernah liat dia lewat depan kelas kita, trus sekarang gimana, dia baik-baik aja kan?” Tanya gadis yang dipanggil Si. Aku ingat namanya Shasi, dia pernah mengukir namanya di salah satu dahanku.
“ Ya, iyalah.. kalo masih sakit mah, dia ga bakal sekolah kale”. Jawab satu sahabatnya lagi sambil tertawa dan berlari, gadis itu pergi dariku mengejar sahabatnya menuju kelas yang berada tak jauh dariku.
“ Kalian cerita dong tadi ngobrol apalagi sama Kak Bayu” suaranya masih terdengar lewat bisikan angin. Aku ingat sekarang siapa gadis ini, waktu itu dia salah satu manusia yang paling sering menghabiskan waktunya di bawah rindang dan teduhnya diriku, bahkan lebih sering dari tukang kebun yang setiap hari membersihkan daun dan bungaku yang jatuh. Dan seperti yang sudah kubilang, dia satu-satunya manusia yang berkomunikasi denganku, percaya bahwa aku hidup dan bisa mendengar semua ceritanya. Apa kabar dengannya hari ini?. Sekarang dia bukan gadis remaja lagi tapi masih mempunyai aura yang sama seperti dulu, penuh cinta dan penantian. Ayolah berbisik padaku dan bercerita kemana saja selama setelah pergi dari sekolah ini.
“Aku ga bisa sering-sering pulang ke Cianjur dan menikmati udara segar seperti ini. Jakarta penuh dengan polusi dan debu.” Dia berkata pada kawannya seolah menjawab tanyaku.
“Iya, makanya ayo foto-foto yang banyak, kita juga yang di Cianjur jarang bisa sering-sering ke sekolah. Ayo kamu pose disana” kata salah satu sahabatnya mendorong tubuh Shasi mendekat padaku. Gadis itu menarik nafas panjang, aku pernah merasakan perasaaan ini sebelumnya ketika dulu.
“ Kak Bayu kelas tiga dan aku kelas dua, dia hampir lulus dari sekolah ini. Aku menyukai Kak Bayu sejak dari kelas satu, dia gak pernah tahu kalau aku suka sama dia.” Dulu dia pernah berbisik padaku dengan perasaan sedih namun gembira, rasanya itu seperti sekarang ini saat dia sedang menarik nafas.
“Tapi ga papa, meski dia gak tahu, aku sudah puas hanya dengan melihatnya. Aku pernah berharap andaikan kamu bisa bicara, tolong bisikkan pada Kak Bayu kalau aku suka dia. Mungkin harapan yang gila, bahkan dengan aku berbicara padamu seperti ini juga sudah cukup gila.” Dia menikmati angin dan menengadahkan wajahnya melihat ranting-ranting dan daunku. Kujatuhkan bunga merah di atas matanya yang dilapisi kacamata, kemudian dia tersenyum sambil memungut bungaku dan memasukkannya ke dalam saku baju seragamnya. Setiap senja saat sekolah sudah sepi, dia sering duduk bersandar padaku menikmati angin.
“Plamboyan aku sebel banget deh sama Kak Bayu. Kemarin siang waktu aku latihan Pramuka dia marah karena Aku dan Rani datang terlambat. Dihukum harus sit jump sih aku terima, tapi omongannya itu aneh. Dia bilang “kalau masuk Pramuka alesannya Cuma pengen PeDeKaTe sama Kakak kelas sih jadinya gini, kurang disiplin dan sembarangan”. Kenapa dia ngomong gitu yah. Jangan-jangan dia tahu sesuatu?” Suatu senja yang kelabu dia datang padaku dengan penuh kebimbangan.
“Aku pernah cerita padamu pohon, alasan aku masuk ektrakurikuler Pramuka hanya untuk bisa lebih dekat sama Kak Bayu, bahkan masuk ke SMA ini juga karena dia. Tapi sungguh, aku Cuma bilang ini sama kamu. Aku gak pernah bilang sama siapapun, tapi kenapa kak Bayu kayak nyindir aku yah, apa akunya yang terlalu sensitif” Shasi termenung lagi, sepertinya dia melewati hari ini kurang baik.
“ Aku ingin diberi kekuatan untuk menyatakan cinta pada Kak Bayu sebelum dia meninggalkan sekolah, karena tak banyak lagi waktu tersisa sebelum wisuda. Tapi semua itu tak pernah bisa. Aku selalu takut karena aku wanita, tak pantas menyatakan cinta lebih dulu. Atau alasan yang lebih pasti adalah bahwa aku tahu Kak Bayu tak pernah menyukaiku sehingga kalau aku bilang menyukainya maka aku akan mendapat jawaban yang mengecewakan.” Dia berbicara sambil menundukkan kepala dan mengais-ngais akarku dengan ranting yang telah kering. Waktu itu dia tidak sendiri, disampingnya ada salah satu sahabatnya yang bernama Septi.
“Jujur, sebenernya tanpa kamu tahu, aku dah minta tolong Kak Ahmad soal kamu dan Kak Bayu. Kak Ahmad itu bukan cuma sekelas sama Kak Bayu, tapi sebangku, jadi kita bisa cari tahu banyak dari dia. Dan kemarin dia bilang sesuatu soal kamu ke Kak Bayu. Aku ga bisa cerita jelas. Nanti aja kita ngobrol sama kang Ahmad gimana hasilnya” Jawab Septi penuh kehati-hatian.
“Aduh Ti, kamu bilang-bilang sama Kak Ahmad kalau aku suka sama Kak bayu?. Kamu kan dah janji kalau ini rahasia.” Shasi tampak Resah.
“Kami cuma bantuin kamu aja nyampein perasanmu ke Kak Bayu. Abis kamu tuh yah, dipendem aja tuh rasa cinta, bisa karatan nanti” Melihat ekspresi Shasi, sahabatnya berusaha menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Mungkin saatnya semua orang tahu tentang perasaan Shasi ke Kak Bayu itu, bukan hanya aku atau ketiga sahabatnya saja.
“Tenang, tuh dia Kak Ahmad” Septi menunjuk seorang siswa yang tengah berjalan mendekati tempatku berdiri.
“Gimana Kak?, hasilnya gimana yang kita omongin kemaren” Tanya Septi tak sabar, sedang Shasi entah apa yang ada dipikirannya. Siswa yang dipanggil Kak Ahmad melihat Septi pacarnya, kemudian menatap Shasi. Seperti berat untuk berkata.
“Gimana kalau bicaranya di rumah Shasi aja, deket kan dari sekolah?. Ceritanya lumayan panjang.” Jawab Kang Ahmad sambil menghembuskan nafas.
“Oke kalau gitu kita pergi sekarang” jawab Shasi kemudian mereka pergi. Aku sedikit kecewa mengapa tidak di sini saja, di bawah daun-daunku mereka bercerita. Aku tak pernah tahu apa yang mereka bicarakan. Dan sejak itu gadis berkacamata itu tak pernah bercerita padaku lagi bahkan sampai dia pergi dari sekolah ini. Beberapa hari sejak itu , dalam senja dia hanya bersandar padaku sambil menutup mata tanpa berkata apapun. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya antara dia dan Kak Bayu itu.
“Dah siang nih, yuk kita balik, kamu dah ngambil banyak foto kan.” Gadis yang berbadan kecil mengajak untuk pergi.
“ Ok, udah cukup. Sekolah kita tambah keren aja yah, keliatan bagus di kamera. Ga usah jauh-jauh nyari pemandangan bagus sampe ke taman bunga.” Gadis yang lebih tinggi masih asyik dengan handponenya melihat foto dirinya bersamaku.
“ Yuk pulang” sahabat Shasi yang satunya seperti tidak sabar untuk cepat pergi, padahal aku masih ingin bersama Shasi, ingin mendengarkan dia berbicara padaku. Dan juga ada sesuatu yang harus dia tahu dariku tentang manusia bernama Kak Bayu itu, tapi bagaimana cara aku menahannya untuk tetap disini. Aku bukan binatang yang bisa mencari perhatian dengan gerakan atau suara untuk berkomunikasi dengan manusia. Meski aku punya perasaan dan bisa menjadi saksi kelak di hari akhir saat Tuhan meminta pertanggung jawaban atas kelakuan manusia, tetap saja aku hanya tumbuhan yang dirasa manusia seolah tidak hidup karena tidak bernyawa. Bagaimana caranya agar gadis yang bernama Shasi itu tahu sebuah rahasia yang aku tahu.
Dua sahabat Shasi telah lebih dulu beranjak pergi menjauh dariku, tinggal Shasi dan satu sahabatnya. Mungkin aku harus meminta bantuan angin untuk mencari perhatian Shasi.
“Waktu aku baca novel karyamu, sekarang aku tahu kenapa kemarin tiba-tiba kamu pengen ke sekolah trus ngambil foto pohon Plamboyan. Kamu punya banyak kenangan disini kan” Sahabatnya yang sedari tadi sibuk dengan handponenya angkat bicara. Shasi tersenyum.
“Plamboyan ini lebih dari sahabatku.Tepatnya semua pohon Plamboyan yang ada di sekolah ini adalah sahabatku.” Aku benar-benar bisa mendengar kerinduan dalam suaranya.
“Waktu kelas satu, aku sering menunggu Kak Bayu di bawah pohon Plamboyan itu, karena kelasnya tepat di depan pohon itu” Shasi menunjuk kawanku yang berdiri lebih kokoh dan lebih tua dariku. Aku bisa mengingatnya karena setelah senja dia akan bercerita padaku bahwa tadi siang dia menungu Kak Bayu untuk memberikan laporan soal ujian Bantara, sebuah tingkatan dalam Ekstrakurikuler Pramuka.
“ Waktu kelas dua, kelas kita disana kan.” Shasi menunjuk ruang kelas yang jaraknya hanya beberapa meter ke arah barat dariku.
“Tiap istirahat aku sering duduk disini, juga sore hari atau hari libur waktu rumahku masih di samping sekolah.” Saat itulah dia sering bercerita padaku tentang apapun, dan berkata ‘andai kamu sedikit lebih pendek maka aku akan berada di puncak dahanmu, kamu terlalu tinggi jadi kalau aku naik takut ga bisa turun”.
“Dan di pohon Plamboyan yang sekarang tidak ada, itu di depan kelas Kak Bayu, aku sering melihat dia duduk di bawah pohon sedang membaca buku atau bercanda dengan temannya.” Kini suara Shasi terdengar lebih pelan dan hampa.
“HEY….Kalian ngapain sih masih disini, cepetan pulang, ditungguin dari tadi juga” Sahabat Shasi yang tadi pergi kembali lagi, dia tampak kesal. Dan akhirnya Shasi yang menjadikan aku sahabatnya pergi juga. Dalam langkahnya dia kembali menoleh ke arahku, dengan bantuan angin kuterbangkan satu bunga menuju tangannya. Dia tersenyum dan menyimpan bungaku ke dalam dompetnya.
Senja di hari ini juga, seorang lelaki memasuki sekolah dan berbicara sebentar dengan penjaga sekolah. Bukan siswa atau guru. Dia pergi ke arah timur, kemudian berhenti sejenak, sepertinya mencari sesuatu yang hilang. Dia berbalik ke arah barat melihatku, kemudian melangkah mendekatiku. Di atas akarku dia berdiri sigap, meniup kedua telapak tangannya kemudian menaiki dahan dan batang hingga menuju puncak tertinggi bersembunyi dibalik dedaunan. Tubuhnya bersandar pada dahanku, setengah terlentang seolah dia tidur di atas permadani. Dia memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang. Ini pertama kalinya setelah bungaku 10 kali bersemi dan gugur, dia kembali berbaring di atas dahanku. Di masa sebelumnya saat dia masih remaja, aku dan dia setiap hari mendengarkan seorang gadis bercerita pada sebuah pohon sepertiku tentang cinta pertamanya. Gadis itu adalah Shasi dan cinta pertamanya itu adalah Bayu, seorang yang sedang melamun di atas dahanku.
“Lama tak jumpa pohon” Dia menepuk dahanku dengan lembut.
“ Apa dia masih suka cerita padamu?. Pasti tidak lagi kan?. Dulu aku bilang pada sahabatku untuk menyampaikan padanya kalau aku tak bisa nerima dia karena harus fokus belajar demi mengejar cita-citaku, kalau jodoh kami pasti jumpa lagi. Mungkin karena itulah kenapa dia tak pernah lagi bicara padamu, dia hanya diam dalam senja di bawahmu dan aku.” Lelaki itu bicara padaku tentang sesuatu yang aku tak tahu waktu dulu.
“Fokus belajar bukan alasan klise, bukan penolakan halus seperti yang dia bilang. Semua demi cita-citaku menjadi seorang dokter.” Dia menghembuskan napas dengan kuat. Aku merasakan aura kerinduan dalam dirinya.
“ Apa mungkin kami tidak berjodoh, hingga sampai kini aku tak bisa bertemu dia lagi?” Lelaki itu memejamkan mata menikmati angin. Kujatuhkan kelopak bungaku pada wajahnya.
Aku tak bisa menjawab apa yang dia tanyakan, meski aku tahu sesuatu tentang dia dan gadis yang dia bicarakan. Aku tak punya kuasa untuk berbicara meski aku adalah saksi tentang sesuatu yang aku tahu. Tunggu saja wahai manusia, Yang Maha Pencipta lebih tahu daripada aku, atas sesuatu yang aku tahu tapi kau tidak tahu.
SELESAI

Senin, 19 Maret 2012

Bawang kucai dan Pangeran

Dalam senja yang temaram, sang pangeran meninggalkan kawannya sebentar lalu menghampiri seorang gadis yang sedang duduk termenung sendiri.
"Bawang kucai,Jangan lupa yah nanti malam datang ke acara pesta ulang tahunku"
Si gadis tertegun mendengar perkataan pangeran kemudian dia menjawab.
" Iya, tapi aku tidak bisa berjanji, karena aku punya urusan malam ini"
" Pokoknya kamu harus datang, aku akan menunggu" pangeran tampak sedikit kecewa mendengar jawaban bawang kucai, kemudian dia pergi.
Bawang Kucai membayangkan bagaimana suasana pesta nanti malam, pati ramai dan gemerlap. Akan berkumpul tamu dan sahabat pangeran dengan kado dan pakaian yang indah. Lalu apalah artinya seorang bawang kucai. Dunia dia dan dunia pangeran sungguh berbeda.Dia tak mungkin bisa hadir dan masuk dalam lingkungan yang menurutnya berbeda. Bawang kucai tidak siap untuk memasuki dunia gemerlap itu, terlebih lagi, saat dimana pangeran mengundangnya untuk datang, itu semua hanya mimpi belaka. Dia harus terbangun dari tidurnya.

Minggu, 18 Maret 2012

A different masterplan


kata mereka ' it's our masterplan', sebuah rencana meraih mimpi
mereka mewujudkan mimpi mengelilingi dunia dengan ilmu dan keberanian yang dimiliki...
lalu dengan apa aku ikut serta,..
menangis karena iri..
tak ada yang kubisa, tak ada yang kupunya atau mungkin terlalu banyak bermimpi
mimpi mimpiku satu persatu jatuh menjadi sebuah bualan yg tak berharga..
omong kosong

meski lambat dalam langkah aku tak akan menyerah
meski butuh beribu waktu aku kan tetap maju
meski hanya dunia kecil yang tak diketahui, ku kan tetap arungi

kembali melihat layar hitam
layar yang dipenuhi garis lurus, melengkung bahkan tak beraturan
mimpi dan dunia yang kukelilingi ada di situ dalam sebuah bentuk 2 dimensi
bergerak ke kiri dan ke kanan, berputar, bercermin dan berbalik, masih tak beraturan
sampai kapan kebuntuan ini terjadi, apa aku yang terlalu bebal
hanya beberapa jam waktu tersisa untuk sebuah pembuktian bahwa aku ikut serta
mengakhiri note dengan sebuah ucapan untuk diri sendiri
"betapa diri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, bahkan jika hanya dibandingkan dengan kawan di sekelilingku"
kembali menekuni yang kusebut siteplan
sebuah masterplan dalam duniaku

Jumat, 16 Maret 2012

Tanpa makna

Masih dalam beku air mata, menatap dunia yang begitu sempit
Dalam ruang yang tak bersudut menapaki langkah yang selalu abu
terpejam menari melagukan lagu semu hening nan mendayu
samar dalam buram entah apa yang dikata
tanpa makna tanpa isi tanpa bunyi

Rabu, 07 Maret 2012

Kalimat itu

ketika kalimat itu terucap dari mulut mereka
Ada sedikit perih dalam hati saat harus menjawab tawaran itu
Aku tahu mereka menyayangiku, peduli dan perhatian
Lalu Kenapa aku selalu menjawab dengan menangis
Hati dan jiwaku tiba-tiba hancur
benar-benar terasa luka hati ini
Egoku berteriak dengan suara yang tak terdengar
Aku tak mau ditawari atau ditunjukan
aku ingin mendapatkannya sendiri meski sulit
Sebuah Kesombongan tiada akhir
Haruskah kukatakan pada mereka bahwa aku yang disayangi mereka telah menjadi gila

Tentang gila, aku teringat akan Heidi,juga Difta
Apa mereka salah satu alasan kenapa aku sendiri sampai detik ini?
Terlalu lama aku bersama mereka hingga tanpa sadar menjadi tua
terlalu mesra dengan khayalan hingga tak mengenal sekelilingku
Setiap waktu aku menunggu hadirnya difta, atau cukup hanya Heidi saja
Namun sampai sejuah ini Difta tak pernah hadir dalam nyata
aku terus menciptakan heidi heidi yang lain untuk mengobati sepiku
tapi dunia membangunkanku bahwa hidup tak pernah bisa semudah yang diinginkan

Lalu aku teringat ibu
yang menyayangiku dan menghkawatirkanku
tak ingin aku membuatnya terlalu lama menunggu
pencarian tenangku dibuat menjadi cepat karena penantian ibu
demi waktu yang tak pernah kompromi dengan siapapun
aku membuat luka dalam hati ibu jika terus mencari sendiri

Lalu Allah yang Maha Pengasih
Dimanakah adam yang kucari itu
Meski Aku melihatnya dengan hati
kurasa Adamku sedang mendekat padaku dan menujuku
Adakah aku harus menyerah dan berjalan tanpa hati
menyambut adam yang dibawa mereka
Katakan padaku hingga tak ada yang terluka
baik aku, dia, dan mereka

Jumat, 27 Januari 2012

Cintaku kamu

Vocal : Dhisa
Pencipta : Yovie Widianto

ku merasa saat kau datang kembali
mesti aku mencoba bertahan dan hindari
oh mengapa kau datang mengganggu lagi
di saat kau tak mungkin berada di sisiku

ku sadari meski bintang bersinar di langit indah
aku tak akan mampu menggapai sinarnya
dirimu kan selalu di sana dengannya
takkan berubah meski cintaku kamu

oh mengapa kau datang mengganggu lagi
di saat kau tak mungkin berada di sisiku

ku sadari meski bintang bersinar di langit indah
aku tak akan mampu menggapai sinarnya
dirimu kan selalu di sana dengannya
takkan berubah meski cintaku kamu


Dhisa Cintaku Kamu
Suara adzan itu mengembalikan ingatanku ke beberapa tahun silam, waktu ku kecil di kampung dulu. Sebelum adzan tiba, saat anak-anak lelaki berpuji-pujian di mesjid mengagungkan asmaNya, aku akan bersiap memakai kain sarung menutupi celana pendekku yang selutut, memilih kerudung ibu yang bisa menutupi kepala tapi tidak menutupi poniku.Kuambil kitab suci ,tak lupa dengan "tutunjuk" yang dibuat oleh ...bapa, lalu pergi mengaji. Dalam rumah panggung yang berdindingkan anyaman bambu (bilik),rekar alas alquran berderet panjang di bawah lampu yang kurang terang. Kami berputar, mengaji bergiliran diajari guru ngaji. Magrib. Subuh.dzuhur. Ya Allah, aku rindu suasana itu.
Wangi itu, minyak wangi dari mekah, mengingatkanku pada waktu SMP dulu saat baru pindah rumah. Wangi dari tubuh para guru ngaji. Aku harus pergi jauh ke kampung sebelah agar bisa mengaji agama. Rumah baruku yang dikota,tak ada pengajian untk anak seusiaku. Fiqih,tauhid,tajwid,baca tulis Qur'an,hapalan hadis, hapalan kitab sapinah,mizan, terjadwal dengan rapi setiap harinya. Menyesal,Aku berhenti mengaji dengan beribu alasan pada ibu. Aku bilang kejauhan, ibu kecewa, dia bilang dulu dia lebih jauh lagi pergi ke pengajian, melewati sungai dan sawah, sedang aku masih bisa ditempuh dengan naik angkot. Aku mencari alasan lain hingga ibu bilang terserah. Aku berhenti hanya karena hal sepele, ketidakmampuanku untuk bergaul dengan teman-teman sepengajian menjadikanku terasa terasing sendiri di kampung orang. Jika aku pergi dari rumah setelah magrib, aku akan ketinggalan sholat berjamaah dan menjadi paling akhir datang. Jika aku datang sebelum magrib, surau masih kosong, hanya ada bapa-bapa muadzin yang tak ku kenal, membuatku tidak nyaman,maka besoknya aku akan menunggu magrib di pos kamling sendirian dan merasa kikuk saat ada orang lewat. Jika lagi beruntung, aku akan pergi ke rumah temanku dan menunggu magrib disana, tapi kadang dia sering tidak pergi ngaji ke surau. Aku juga merasa tidak nyaman bertamu di rumah orang saat menjelang magrib. Alsan-alasan itu tak kusebutkan pada ibu,cukup kukatakan kejauhan, maka ibu akan memarahiku dengan ucapan "dasar males". Aku dulu berharap ibu pindah rumah ke kampung itu agar bisa ngaji lebih deket, atau ada pengajian seperti itu dikampungku. Tapi itu tidak prnah terjadi. Ya Allah, aku minta ampun padaMu.
Aku rindu masa-masa itu ya Rabb. Pintaku kini, bantulah aku untuk lebih dekat denganMu. Saat ini di tempat perantauanku yang jauh dari orang tua, bukan tidak ada pengajian. Hanya saja aku masih sibuk dengan dunia. Pengajian itu ada di pagi hari dan siang saat aku harus bekerja. Di waktu libur, aku pergi untuk kuliah. Jadi kesempatan itu tak pernah bertemu. Ijinkan aku menghadiri majlis-majlisMu Allah. Aku rindu akan ilmu-ilmu Engkau. Masukanlah aku dalam golongan yang senantiasa menghadiri pengajian.

Senin, 09 Januari 2012

Mimpi gila

Aku kemping gak bawa baju atau apa apa, datang terlambat saat hari sudah mau gelap.Aku meminjam baju Rinrin karena dia pulang, gak ikut nginep. Bajunya cuma kaos tipis, tapi lumayan daripada aku hanya memakai satu baju saja.
Waktu kumpul di api ungun, seorang pria mau meminjamkan jaketnya padaku, dia masuk ke tendanya, tapi kemudian pria lain melepas jaketnya dengan cepat lalu memakaikannya padaku.Tebal dan hangat. Aku gak kenal siapa mereka. Aku datang ke sini sendiri. Seusai kumpul Aku masuk tenda untuk tidur, dengan jaket yang tadi di pinjamkan jadi lumayan hangat untuk melawan udara pegunungan yang sangat dingin.Tapi kemudian Aku membagi jaketku pada seorang gadis remaja yang mengigil kedinginan padahal dia sudah pakai jaket dan kaos kaki.
" Deketan aja tidurnya sebelah sini nanti biar jaketnya bisa dipakai berdua." Aku menawari si gadis yang kedinginan.
" oh iya, makasih kak" Jawabnya kemudian merapat.
"Jaketnya punya kakak bukan, ini sama kayak punya kakakku" tanya dia saat jaket itu menutupi bahunya dan bahuku.
" Bukan punyaku, ini tadi ada yang minjemin. Mungkin itu kakakmu"
" Pasti bukan, soalnya kak Radit orangnya pelit" jawabnya sambil menguap kemudian memejamkan mata untuk tidur.

Pagi tiba, aku pergi ke tempat pemandian dan menikmati pemandangan sekitarnya sendirian.
" Cuaca dingin sekali, kamu kuat yah gak pake jaket." pria yang meminjamkan jaketnya semalam datang menghampiriku.Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman, karena kurasa dia harusnya tahu kenapa aku gak pake jaket.
" Jaketku mana?" tanya dia kemudian.
" oh itu... dipake temen setendaku, nanti biar aku ambil dari dia" pasti dia kesal karena aku malah minjemin ke orang. Tapi biarlah kan yang pake adiknya.
"Kamu tahu ga, apa aja caranya buat mengatasi dingin kayak gini selain pake jaket."
"Bikin api ungun"
" emh..bisa, selain itu apa lagi?" dia menatapku dengan mata menyelidik. Aku melihat dia senyum, lumayan manis.Aku menggelengkan kepala karena ga punya jawaban lain.
Dia mendekat padaku, dalam hitungan detik tangannya memeluk tubuhku kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Aku benar-benar membeku seperti es karena terkejut, tak ada tenaga untuk mendorong tubuhnya menjauh dariku atau hanya untuk sekedar memalingkan muka, terlalu cepat semuanya terjadi. Bibirnya kemudian melumat bibirku dengan lembut, aku masih terpaku. Hanya dalam hitungan detik saja kurasa semuanya berlangsung. Dia menjauhkan wajahnya dari wajahku kemudian tersenyum,tangannya menyentuh jemariku yang sedingin es balok.
" aduh..Ternyata bukan jadi hangat, malah jadi makin dingin" katanya dengan terkejut yang dibuat-buat kemudian tersenyum lagi.
Aku melangkah pergi menjauhinya tanpa berkata apapun, benar-benar gila dia. Orang gila asli. Tapi... kenapa aku nggak berontak, huh..apa aku yang sudah gila.

Senin, 05 Desember 2011

Rahasia (Vania Larissa)

aku mencintaimu walau aku tak beritahumu
dari semenjak dulu cinta itu telah lama lahir
sajak dan bait begitu mengalir
tuntun penaku menulis tentangmu

ini rahasia semakin tak kuat
aku menyimpannya terlebih ada kamu
rahasia terdalam di hatiku
yang kan aku bilang bila tiba waktunya

aku mencintaimu walau aku tak beritahumu
sajak dan bait begitu mengalir
tuntun penaku menulis tentangmu

ini rahasia semakin tak kuat
aku menyimpannya terlebih ada kamu
rahasia terdalam di hatiku
yang kan aku bilang bila tiba waktunya

rahasia semakin tak kuat
aku menyimpannya terlebih ada kamu
rahasia terdalam di hatiku
yang kan aku bilang bila tiba waktunya

rahasia terdalam di hatiku
yang kan aku bilang bila tiba waktunya
yang kan aku bilang bila tiba waktunya
bila tiba waktunya

Judul Lagu : Rahasia
Penyanyi : Vania Larissa
Album : Single / Unknown Album
Produksi : Sony Music

Sabtu, 12 November 2011

???????

Tanya – tanya

Apa, siapa, mengapa?

Kenapa, bagaimana,?

kapan, dimana?

Tanya itu menggangguku

Bertanya tiap menit hingga mendesak detik

Tanya itu menjadi tak tertampung

Tanya yang tak bisa ditanyakan

Tanya yang tak kan pernah ada jawabnya

tanya yang sulit diungkapkan

atau belum pantas dilontarkan

kemudian tanya-tanya itu berulang menggoda

ku hanya menunggu waktu tanpa bertanya

menanti jawaban tanpa ada tanya

Jakarta, 01/11/2011

What kind of feel is this?

kutanyakan dengan tanda tanya, jawaban masih berupa tanya

kulihat dengan nyata, diterjemahkan air mata

rasa yang menyelinap dalam perasa tercipta tanpa aba-aba

sejenis apakah yang kurasa masih tak bermakna

Controlize, determinate, delete or end , some words that i can't do

I can do nothing about this feel

Friday, November 4, 2011